Sunday, April 17, 2016

Selalu ada Jalan

"Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lainnya terbuka, tetapi kita sering terlalu lama menatap dan menyesali pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka untuk kita." - Alexander Graham Bell.

Pernahkah kita mendengar nasehat bahwa kita harus terus berusaha dan pantang menyerah? Motivasi tersebut sangat sering kita dengar namun sangat sulit untuk dilakukan. Mengapa? Karena pada umumnya manusia mudah putus asa terhadap apa yang namanya kegagalan. Jarang sekali meyakini bahwa keajaiban akan datang bagi orang-orang yang terus berusaha.

Alkisah ada seorang warga desa miskin bernama Tejo. Ia hidup di bawah kaki gunung batu dan tandus. Untuk menghidupi keluarganya, yang ia lakukan adalah memecah bebatuan dan menjualnya ke kota. Sayangnya letak kota ada di balik gunung batu dan tandus tersebut. Ia harus mendaki gunung dan turun gunung setiap harinya. Tejo lahir dari keluarga yang kental budaya menghargai tanah leluhur. Itulah sebabnya ia tak mau pindah ke kota ataupun ke pinggiran kota. Daerah yang tandus menyebabkan desa Tejo dilanda kekeringan dan banyak warga desa yang lama kelamaan pindah ke kota atau pinggiran kota untuk mencari mata pencarian lainnya.



Suatu ketika anaknya berkata padanya ingin pindah ke kota, karena tidak tahan hidup dengan kemisikinan di tanah yang tandus. Anaknya berpendapat bahwa tanah kelahirannya sudah sangat tandus dan sudah tidak diberkati lagi oleh Tuhan. Dahulu memang desa tersebut banyak penduduknya, namun karena musim hujan tak pernah kunjung, akhirnya kekeringan melanda desa tersebut. Banyak penduduk yang meninggal dunia dan sebagian dari mereka pindah ke kota. Hanya yang menjaga tradisi leluhur saja yang tetap bertahan di desa tersebut.

Dengan berat hati, Tejo mengizinkan anaknya untuk pindah ke kota. Ia dan istrinya tetap tinggal untuk menjaga tradisi lelulur. Dalam perjalanan menuju ke kota, anaknya harus mendaki gunung yang terjal. Namun nasib berkata lain, anaknya tergelincir dan jatuh sehingga kepalanya terbentur bebatuan yang keras. Akibat hal tersebut, anak Tejo mengalami luka parah. Mendengar kabar tersebut, Tejo langsung menuju lokasi kejadian dan menjumpai kepala anaknya bercucuran darah. Karena tidak ada dokter di desanya, Tejo bergegas menuju ke kota yang berjarak 25 km dengan cara berjalan kaki. Sesampainya di kota, nyawa anaknya sudah tidak dapat tertolong lagi.

Berita duka tersebut membuat histeris istri Tejo. Istrinya terus menangis berhari-hari meratapi nasib yang menimpa keluarga mereka. Akibat kejadian tersebut, Istri Tejo sering menyalahkan Tejo. Jika saja mereka pindah ke kota bersama-sama, hal tersebut tentunya tidak akan terjadi. Penyesalan yang mendalam dari Istri Tejo membuatnya sakit. Sakit yang diderita Istri Tejo sangat berkepanjangan. Ekonomi yang lemah membuat Tejo tak sanggup membeli obat untuk menyembuhkan sakit Istrinya. Sampai pada akhirnya Istrinya pun menyusul anaknya karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Tejo sangat sedih sekali kehilangan keluarga yang ia cintai. Tejo begitu marah dengan gunung batu dan tandus yang ia tinggalin. Ia merasa ia sudah menjaga gunung itu, namun kenapa keluarga yang ia cintai justru meninggalkannya karena gunung batu dan tandus tersebut telah mencelakai anaknya hingga meninggal dunia. Tejo beranggapan, jika saja gunung itu tidak terjal dan menghalangi jalan ke kota, maka kejadian anaknya tergelincir tidak akan ada. Hidup Tejo tanpa harapan, ia sudah tak punya harapan hidup lagi karena sudah tidak memiliki keluarga. Untuk apalagi ia hidup. Namun sebelum ia dipanggil Tuhan, ia bertekad untuk membalaskan dendamnya.

Sejak hari itu, Tejo mengambil Palu dan linggisnya dan bertekad untuk menghancurkan gunung tersebut dengan tangannya sendiri. Orang-orang di desanya menganggap Tejo sudah gila karena ditinggal keluarganya. Mana mungkin gunung yang besar dapat dihancurkan sendiri oleh seorang Tejo. Setiap hari ia menghancurkan bebatuan di gunung tersebut. Terik matahari, kelaparan, kehausan, tangan dan otot yang luka menjadi keseharian Tejo. 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun ia lalui. Ia tetap menghancurkan bebatuan seorang diri. Tak ada seorang pun yang mau membantunya. Orang-orang menganggapnya gila.

Warga desanya sering menasehatinya, untuk apa ia melakukan semua itu, dan menghimbau untuk berhenti. Namun dendam Tejo amatlah dalam terhadap gunung tersebut. Ia tidak mau mati sebelum menghancurkan gunung tersebut.

Suatu ketika, saat Tejo sedang melakukan rutinitasnya menghancurkan gunung, terjadilah hujan lebat yang luar biasa dan terjadi sambaran petir. Tejo sangat khawatir dan takut sekali dengan sambaran petir yang luar biasa banyak. Ia belum pernah melihat petir yang menggelegar selama ini. Beruntung bagi Tejo yang menemukan batu besar di dekatnya, ia pun berlindung di batu besar tersebut. Petir menyambar bebatuan dimana tempat Tejo berlindung sampai menimbulkan percikan api. Tejo pun kaget dan terpental hingga pingsan.

Saat Tejo tersadar dari pingsannya, ia menjumpai hujan telah berhenti. Ia menatap tajam pada batu besar yang telah melindungi dirinya dari sambaran petir. Ia merenung dan menyadari bahwa gunung ini telah menyelamatkan nyawanya. Ia sagat berterima kasih terhadap gunung ini. Apakah dendam yang ia pendam selama ini pantas ia limpahkan ke gunung ini? Gunung ini sesungguhnya tidak bersalah. Sesungguhnya takdir yang memisahkan ia dengan keluarganya, bukan karena gunung ini.

Tejo merenung diri seharian, untuk apalagi ia hidup. Ia tidak punya keahlian lain selain memecah batu. Jika ia tidak menjalankan rutinitasnya lagi, apa makna hidup baginya? Kemudian ia merenung dan kemudian ia menghapus dendamnya. Ia tetap akan menghancurkan gunung tapi bukan untuk membalas dendam, namun untuk membelah gunung agar ada jalan yang menghubungkan antara kota dan desanya. Ia tidak ingin ada kejadian yang ia alami juga menimpa orang lain.

Tejo akhirnya melanjutkan hari-harinya dengan menghancurkan gunung dengan tujuan baru, yakni membuka jalan agar bisa dilalui orang banyak. Ia terus melakukan itu sampai 30 tahun lamanya. Gunung tersebut masih jauh dari hancur dan terbelah. Berita kegigihan Tejo terdengar sampai ke seorang wartawan koran terkemuka. Wartawan tersebut akhirnya menceritakan kegigihan dan semangat Tejo di koran. Tulisan kisah heroik Tejo di koran akhirnya mampu menggugah Pemerintah. Sampai pada akhirnya Pemerintah memberikan bantuan untuk membuka jalan dengan membelah gunung batu dan tandus tersebut.


Gunung batu dan tandus itu akhirnya terbelah dan jalan antara kota dan desanya dapat terhubung. Tejo tidak menyangka jika pada akhirnya ada orang yang mau membantu usaha yang ia lakukan setelah berpuluh-puluh tahun. Tejo sangat berbahagia pada akhirnya, karena hidup yang ia lalui tidak sia-sia dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Penulis: Ridho Hutomo

No comments:

Post a Comment