Showing posts with label Mindset. Show all posts
Showing posts with label Mindset. Show all posts

Tuesday, December 26, 2017

Menyambut Tahun 2018 dan Resolusi Cerdas untuk Kebahagian Pribadi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Istilah resolusi sangat populer didengar menjelang akhir tahun, karena resolusi dapat diartikan juga sebagai kebulatan tekad untuk mencapai suatu tujuan di tahun-tahun ke depan.



Bagaimana memilih resolusi yang cerdas untuk kita? Kita mulai dari faktor eksternal atau faktor internal?

Menurut BBC Indonesia, wajah perpolitikan Indonesia dalam dua tahun ke depan akan diwarnai persaingan tajam dua kekuatan politik dominan yang dapat mengakibatkan perpecahan politik di tingkat masyarakat sehingga sulit disembuhkan. Pernahkah kita mendengar gara-gara perbedaan politik, teman baik jadi musuh, status media sosial menjadi unfried atau unfollow? Apakah di tahun 2018 kita yang akan dipengaruhi oleh situasi atau kita yang ingin berperan dalam mempengaruhi situasi? Ikut hanyut dalam panasnya perpolitikan atau ikut andil dalam mendinginkan suhu politik?

Dari 100 orang yang mendengarkan ide tentang perubahan dunia, 90 orang setuju kita perlu melakukan perubahan yang lebih baik, misalnya: peduli lingkungan, menciptakan kedamaian, jauhi narkoba, hentikan korupsi, dll. Namun ternyata hanya  10 orang yang setuju dan benar-benar siap untuk mengubah perilaku dari diri sendiri. Ya... Perubahan besar itu dimulai dari diri sendiri. Begitu juga dengan resolusi pribadi. Perubahan besar dimulai dari sebuah langkah kecil yang disebut dengan “aksi”.

Untuk apa membuat suatu resolusi jika resolusi tersebut tidak cerdas? Resolusi cerdas adalah sebuah resolusi yang dapat dicapai dengan cara yang sederhana. Berikut ini adalah beberapa contoh resolusi yang populer atau sering kita dengar, yaitu:

Contoh-contoh resolusi terkait keuangan
1.       Selektif dalam membeli (kebutuhan vs keinginan)
2.       Menyisihkan penghasilan untuk tabungan
3.       Mulai berinvestasi

Contoh-contoh resolusi terkait kesehatan
1.       Menurunkan berat badan
2.       Mulai aktif berolahraga
3.       Berhenti merokok

Contoh-contoh resolusi terkait karir
1.       Perluas koneksi
2.       Tingkatkan profil di dunia maya
3.       Produktif di pagi hari

Apakah resolusi tersebut cerdas bagi kita? Apakah kita yakin bisa mencapainya? Apakah kita mengetahui cara melakukannya?

Hasil riset dan pengalaman saya pribadi, kesempurnaan dapat tercapai karena 2 cara:
1.       Fokus pada fundamental
2.       Konsisten dan perbaikan tanpa henti

Jika kita memiliki 4-10 resolusi, maka yang akan tercapai sempurna hanya 1-2 saja. Namun jika kita fokus pada  2-3 resolusi, maka semuanya dapat tercapai dengan sempurna. Mengapa demikian? Karena setiap orang punya yang namanya kesibukan rutin yang mengganggu fokus dalam mencapai resolusi yang telah ditetapkan. Tujuan hanya dapat tercapai dengan fokus dan konsistensi.

Contoh nyatanya bagaimana sih resolusi cerdas itu? Coba kita ambil salah satu contoh resolusi di atas, yaitu menurunkan berat badan. Dengan fokus pada fundamental, kita cukup menetapkan tujuan yang jelas dan terukur dan menetapkan 2-3 perilaku kunci yang telah terbukti mampu mencapai tujuan. Setelah menemukan perilaku kunci tersebut, langkah selanjutnya adalah konsisten melakukannya setiap hari. Perbandingannya adalah sebagai berikut:


Jika melihat contoh di atas, alih-alih berat badan turun, stress akan menjadi tinggi karena gelisah memikirkan 20 aktifitas. Menghafalnya saja sudah sulit, apalagi melakukannya. Ribet... banyak aturan. Akhirnya kita malah tidak melakukan apa-apa (do nothing).  

Dengan resolusi cerdas, kita cukup mempertajam tujuan, dan fokus pada 2 hal penting (kolom kanan) yang dapat konsisten dilakukan setiap hari. Mudah diingat dan sederhana untuk dilakukan. Jika kita sudah memahami cara resolusi cerdas seperti contoh di atas, selanjutnya adalah tinggal kita terapkan pada bidang-bidang lainnya sesuai dengan minat masing-masing. 

Jika tidak percaya, dapat dibuktikan sendiri selama 2-3 bulan, dan rasakan sendiri hasilnya. Resep ini sudah diteliti dan terbukti hasilnya. Jika kita bisa mendapatkan resep gratis, kenapa harus repot-repot mencoba cara lain yang belum teruji.

Resolusi Cerdas... Berani Memulai Tanpa Nanti. Bukan Mimpi Tapi Aksi.

Penulis: Ridho Hutomo

Sunday, May 1, 2016

How to: Mengelola atau Menghilangkan Stress?

"Hanya ada satu cara untuk menghindari kritik: jangan lakukan apa-apa, jangan katakan apa-apa, dan jangan jadi apa-apa" - Aristoteles.


Pada suatu ketika saat seorang Guru sedang mengajar di suatu kelas kepemimpinan, ada siswa yang terlihat sangat gelisah dan tampak tidak fokus mengikuti pelajaran. Pada saat istirahat siang, guru tersebut kemudian menghampirinya untuk bertanya, hal apa yang membuatnya kehilangan fokus.










Guru       :    Anda terlihat banyak pikiran dan kehilangan fokus, ada apa gerangan?

Siswa      : Maaf pak, saya stress mengikuti kelas ini, karena program ini berlangsung cukup lama dan saya harus meninggalkan kantor selama 2 (dua) minggu. Saya khawatir pekerjaan saya di kantor tidak selesai.

Guru       :    Ohh, berarti anda sebenarnya tidak menginginkan ikut kelas ini ya?

Siswa      :   Bukan begitu pak, saya sangat menginginkan ikut program kepemimpinan ini, karena tanpa program ini, saya tidak akan bisa dipromosikan. Karena aturan di perusahaan saya, setiap yang akan menduduki jabatan harus lulus program kepemimpinan.

Guru       :    Jadi apa yang membuat anda stress? Memikirkan pekerjaan di kantor atau ikut program ini?

Siswa      :    Entahlah pak, saya juga bingung. Banyak teman-teman saya yang sudah pernah ikut program ini dan tidak semua dari mereka lulus, mungkin itu juga membuat saya stress.

Guru       :    Apakah atasan anda mendukung anda ikut progam ini?

Siswa      :    Saya kira iya pak, namun sepertinya teman-teman saya menyangsikan saya bisa lulus program ini.

Guru       :    Loh memangnya kenapa?

Siswa      :    Sebab yang muda saja ada yang tidak lulus, apalagi saya yang sudah tua seperti ini. Apalagi banyak sekali tugas-tugas dalam program ini. Setiap hari saya harus mengerjakan tugas, membuat resume materi pelajaran, dan ikut ujian. Jujur, saya stress berat.

Guru       :    Apa yang anda rasakan saat ini sampai merasa stress berat?

Siswa      :    Saya takut tidak lulus, dan jika itu terjadi saya akan malu sekali. Itu yang membuat saya stress berat.

Guru       :    Apa yang bisa saya bantu kalau begitu?

Siswa      :    Tolong ajarkan saya caranya untuk menghilangkan stress ini pak?

Guru       :    Ohh… gampang sekali. Anda cukup tidak perlu ikut program ini, maka dengan sendirinya anda pasti tidak akan pernah lulus/tidak lulus dari program ini, dan karena hal itu tidak terjadi pada diri anda, maka dengan sendirinya anda tidak akan merasa stress

Siswa      :    Loh, kalau itu terjadi, artinya saya tidak bisa promosi pak?

Guru       :    Apakah tidak dipromosi membuat anda stress juga?

Siswa      :    Tentu saja pak.

Guru       :    Mana yang membuat anda stress, tidak dipromosi atau tidak lulus program ini?

Siswa      :    Hmm…. 2-2 nya pak, saya ingin mendapatkan promosi tetapi tidak ingin tidak lulus.

Guru       :    Tahukah anda bahwa program kepemimpinan ini untuk mencetak para pemimpin. Pemimpin tidak ditentukan dari sertifikat kelulusan, tetapi pemimpin ditentukan bagaimana dia mampu mengatasi masalah yang ada di pekerjaan. Yang namanya masalah pasti akan menimbulkan stress. Stress tidak dapat dihilangkan, tetapi harus dikelola. Hanya orang mati saja yang tidak stress, coba anda lihat di kuburan, tulisannya R.I.P (Rest in Peace). Jadi yang anda harus lakukan adalah mengelola stress.

Siswa      :    Hmm…. jadi apa yang harus saya lakukan pak?

Guru       :    Anda harus mengelola stress yang anda miliki. Saya berikan cerita kisah seorang samurai yang tertinggal sendiri di medan perang, ia harus menghadapi 100 orang musuh sendirian. Jika ia harus berhadapan secara langsung dengan 100 orang, sudah dipastikan ia akan terbunuh karena dikeroyok. Yang ia lakukan adalah membunuh 1 orang dan berlari menjauh dari gerombolan musuh. Saat gerombolan musuh mengejar, ia berbalik arah dan membunuh 1 orang lagi, dan setelah itu ia berlari menjauh lagi. Ia lakukan hal itu berulang-ulang sampai akhirnya 100 orang habis ditebas dengan pedangnya. Sesungguhnya ia hanya melawan 1 orang, bukan 100 orang. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, ada banyak stress dalam hidup anda, jika anda memikirkannya semua, maka itu membuat anda tambah stress. Anda cukup menyelesaikan masalah dalam hidup anda satu persatu sampai tuntas. Jangan memikirkan masalah yang lain sebelum anda menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Apakah anda sudah paham?

Siswa      :    Terima kasih pak, sepertinya saya mulai mengerti.

Guru       :    Lalu apa yang akan anda lakukan setelah ini?

Siswa      :    Saya akan kembali ke kelas, fokus belajar, dan bersungguh-sungguh mengerjakan ujian agar bisa lulus mata pelajaran hari ini.


Dan dikemudian hari, siswa tersebut berhasil lulus program kepemimpinan dan menjadi salah satu siswa terbaik di kelasnya. Tak lama setelah kelulusannya, ia kemudian mendapatkan promosi di kantornya.



Penulis: Ridho Hutomo

Saturday, April 23, 2016

Kisah Kapal Perang

"Kamu adalah apa yang kamu pikirkan, tindakanmu tercermin dari pikiranmu" - Anonim.


Alkisah ada sebuah Kapal Perang yang dipimpin oleh seorang Laksamana sedang berlayar pada lautan yang sangat berkabut. Kondisi tersebut menyebabkan sang Laksamana tidak dapat melihat kondisi yang ada di depan. Untuk menghindari kapal menabrak sesuatu yang ada di depan, ia menginstruksikan seorang pengintai untuk selalu bersiaga menginformasikan segala sesuatu yang dapat terlihat mata. Pada suatu malam, tiba-tiba Laksamana mendapatkan laporan penting dari sang pengintai yang ada di anjungan kapal.




Pengintai        : “Ada sinar di depan”

Laksamana     : “Sinar tetap atau bergerak?”

Pengintai        : “Tetap Laksamana”

Laksamana     : (hmm…berarti kita ada dalam arah tabrakan dengan kapal yang ada di depan), “Beri isyarat pada kapal di depan kita untuk mengubah arah 30 derajat agar tidak tabrakan dengan kita”

Radio Officer  :  “Pesan telah terkirim Laksamana”

Laksamana     : “Bagus…” (tetapi kenapa sinar tetap dan tidak bergerak)

Radio Officer  :  “Laksamana, kita dapat pesan balasan, justru kita yang dianjurkan untuk mengubah arah kita 30 derajat”

Laksamana     :  “Kirim pesan padanya bahwa Kapten Kapal ini dipimpin oleh Laksamana, segera ubah arah mereka 30 derajat”

Radio Officer  :  “Laksamana, kita dapat pesan balasan, disana Kelasi Tingkat Dua, mereka tidak bisa melakukan hal itu, justru mereka bersikeras agar kita segera mengubah arah 30 derajat”

Laksamana     :  (mendadak marah besar karena Instruksi Laksamana diabaikan oleh Kelasi Tingkat Dua) “PERINTAHKAN KEPADA MEREKA, SAYA ADALAH KAPAL PERANG!!!, SEGERA UBAH ARAH MEREKA 30 DERAJAT ATAU SAYA TEMBAK!!!”

Radio Officer  :  “Laksamana, ada Balasan dari mereka, mereka Mercu Suar”

Ketika mendengar kalimat Mercu Suar, dalam hitungan detik, Kapal Perang tersebut langsung segera mengubah arah 30 derajat.

Paradigma Laksamana saat mendengar “Kelasi Tingkat Dua” adalah tentang Power atau kekuasaan, namun saat mendengar “Mercu Suar” seketika pula paradigmanya berubah menjadi Pulau atau adanya bahaya besar.


Terkadang dalam komunikasi ada 1 atau 2 kata yang dapat mempengaruhi cara pandang kita, dan cara pandang kita sangat menentukan nasib kita ke depannya.

Sunday, April 17, 2016

Selalu ada Jalan

"Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lainnya terbuka, tetapi kita sering terlalu lama menatap dan menyesali pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka untuk kita." - Alexander Graham Bell.

Pernahkah kita mendengar nasehat bahwa kita harus terus berusaha dan pantang menyerah? Motivasi tersebut sangat sering kita dengar namun sangat sulit untuk dilakukan. Mengapa? Karena pada umumnya manusia mudah putus asa terhadap apa yang namanya kegagalan. Jarang sekali meyakini bahwa keajaiban akan datang bagi orang-orang yang terus berusaha.

Alkisah ada seorang warga desa miskin bernama Tejo. Ia hidup di bawah kaki gunung batu dan tandus. Untuk menghidupi keluarganya, yang ia lakukan adalah memecah bebatuan dan menjualnya ke kota. Sayangnya letak kota ada di balik gunung batu dan tandus tersebut. Ia harus mendaki gunung dan turun gunung setiap harinya. Tejo lahir dari keluarga yang kental budaya menghargai tanah leluhur. Itulah sebabnya ia tak mau pindah ke kota ataupun ke pinggiran kota. Daerah yang tandus menyebabkan desa Tejo dilanda kekeringan dan banyak warga desa yang lama kelamaan pindah ke kota atau pinggiran kota untuk mencari mata pencarian lainnya.



Suatu ketika anaknya berkata padanya ingin pindah ke kota, karena tidak tahan hidup dengan kemisikinan di tanah yang tandus. Anaknya berpendapat bahwa tanah kelahirannya sudah sangat tandus dan sudah tidak diberkati lagi oleh Tuhan. Dahulu memang desa tersebut banyak penduduknya, namun karena musim hujan tak pernah kunjung, akhirnya kekeringan melanda desa tersebut. Banyak penduduk yang meninggal dunia dan sebagian dari mereka pindah ke kota. Hanya yang menjaga tradisi leluhur saja yang tetap bertahan di desa tersebut.

Dengan berat hati, Tejo mengizinkan anaknya untuk pindah ke kota. Ia dan istrinya tetap tinggal untuk menjaga tradisi lelulur. Dalam perjalanan menuju ke kota, anaknya harus mendaki gunung yang terjal. Namun nasib berkata lain, anaknya tergelincir dan jatuh sehingga kepalanya terbentur bebatuan yang keras. Akibat hal tersebut, anak Tejo mengalami luka parah. Mendengar kabar tersebut, Tejo langsung menuju lokasi kejadian dan menjumpai kepala anaknya bercucuran darah. Karena tidak ada dokter di desanya, Tejo bergegas menuju ke kota yang berjarak 25 km dengan cara berjalan kaki. Sesampainya di kota, nyawa anaknya sudah tidak dapat tertolong lagi.

Berita duka tersebut membuat histeris istri Tejo. Istrinya terus menangis berhari-hari meratapi nasib yang menimpa keluarga mereka. Akibat kejadian tersebut, Istri Tejo sering menyalahkan Tejo. Jika saja mereka pindah ke kota bersama-sama, hal tersebut tentunya tidak akan terjadi. Penyesalan yang mendalam dari Istri Tejo membuatnya sakit. Sakit yang diderita Istri Tejo sangat berkepanjangan. Ekonomi yang lemah membuat Tejo tak sanggup membeli obat untuk menyembuhkan sakit Istrinya. Sampai pada akhirnya Istrinya pun menyusul anaknya karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Tejo sangat sedih sekali kehilangan keluarga yang ia cintai. Tejo begitu marah dengan gunung batu dan tandus yang ia tinggalin. Ia merasa ia sudah menjaga gunung itu, namun kenapa keluarga yang ia cintai justru meninggalkannya karena gunung batu dan tandus tersebut telah mencelakai anaknya hingga meninggal dunia. Tejo beranggapan, jika saja gunung itu tidak terjal dan menghalangi jalan ke kota, maka kejadian anaknya tergelincir tidak akan ada. Hidup Tejo tanpa harapan, ia sudah tak punya harapan hidup lagi karena sudah tidak memiliki keluarga. Untuk apalagi ia hidup. Namun sebelum ia dipanggil Tuhan, ia bertekad untuk membalaskan dendamnya.

Sejak hari itu, Tejo mengambil Palu dan linggisnya dan bertekad untuk menghancurkan gunung tersebut dengan tangannya sendiri. Orang-orang di desanya menganggap Tejo sudah gila karena ditinggal keluarganya. Mana mungkin gunung yang besar dapat dihancurkan sendiri oleh seorang Tejo. Setiap hari ia menghancurkan bebatuan di gunung tersebut. Terik matahari, kelaparan, kehausan, tangan dan otot yang luka menjadi keseharian Tejo. 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun ia lalui. Ia tetap menghancurkan bebatuan seorang diri. Tak ada seorang pun yang mau membantunya. Orang-orang menganggapnya gila.

Warga desanya sering menasehatinya, untuk apa ia melakukan semua itu, dan menghimbau untuk berhenti. Namun dendam Tejo amatlah dalam terhadap gunung tersebut. Ia tidak mau mati sebelum menghancurkan gunung tersebut.

Suatu ketika, saat Tejo sedang melakukan rutinitasnya menghancurkan gunung, terjadilah hujan lebat yang luar biasa dan terjadi sambaran petir. Tejo sangat khawatir dan takut sekali dengan sambaran petir yang luar biasa banyak. Ia belum pernah melihat petir yang menggelegar selama ini. Beruntung bagi Tejo yang menemukan batu besar di dekatnya, ia pun berlindung di batu besar tersebut. Petir menyambar bebatuan dimana tempat Tejo berlindung sampai menimbulkan percikan api. Tejo pun kaget dan terpental hingga pingsan.

Saat Tejo tersadar dari pingsannya, ia menjumpai hujan telah berhenti. Ia menatap tajam pada batu besar yang telah melindungi dirinya dari sambaran petir. Ia merenung dan menyadari bahwa gunung ini telah menyelamatkan nyawanya. Ia sagat berterima kasih terhadap gunung ini. Apakah dendam yang ia pendam selama ini pantas ia limpahkan ke gunung ini? Gunung ini sesungguhnya tidak bersalah. Sesungguhnya takdir yang memisahkan ia dengan keluarganya, bukan karena gunung ini.

Tejo merenung diri seharian, untuk apalagi ia hidup. Ia tidak punya keahlian lain selain memecah batu. Jika ia tidak menjalankan rutinitasnya lagi, apa makna hidup baginya? Kemudian ia merenung dan kemudian ia menghapus dendamnya. Ia tetap akan menghancurkan gunung tapi bukan untuk membalas dendam, namun untuk membelah gunung agar ada jalan yang menghubungkan antara kota dan desanya. Ia tidak ingin ada kejadian yang ia alami juga menimpa orang lain.

Tejo akhirnya melanjutkan hari-harinya dengan menghancurkan gunung dengan tujuan baru, yakni membuka jalan agar bisa dilalui orang banyak. Ia terus melakukan itu sampai 30 tahun lamanya. Gunung tersebut masih jauh dari hancur dan terbelah. Berita kegigihan Tejo terdengar sampai ke seorang wartawan koran terkemuka. Wartawan tersebut akhirnya menceritakan kegigihan dan semangat Tejo di koran. Tulisan kisah heroik Tejo di koran akhirnya mampu menggugah Pemerintah. Sampai pada akhirnya Pemerintah memberikan bantuan untuk membuka jalan dengan membelah gunung batu dan tandus tersebut.


Gunung batu dan tandus itu akhirnya terbelah dan jalan antara kota dan desanya dapat terhubung. Tejo tidak menyangka jika pada akhirnya ada orang yang mau membantu usaha yang ia lakukan setelah berpuluh-puluh tahun. Tejo sangat berbahagia pada akhirnya, karena hidup yang ia lalui tidak sia-sia dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Penulis: Ridho Hutomo

Sunday, April 10, 2016

Bekerja dengan Cinta

"Jika kita mengerjakan sesuatu yang sangat kita sukai, kita tidak perlu memaksakannya. Visinya akan menarik kita." - Steve Jobs.

Pernahkan kita sering mendengar kebanyakan orang bekerja untuk mencari sesuap nasi? Kalimat tersebut mungkin tidak asing kita dengar. Ada 2 (dua) kemungkinan kenapa kalimat tersebut terucap, pertama, karena low profile (rendah hati), atau yang kedua, karena memang kondisi sesungguhnya, hidup dalam keterbatasan.

Alkisah ada 2 (dua) orang anak, Tatang seorang anak petani, dan Adang seorang anak pedagang. Sejak kecil Tatang dibesarkan oleh orang tuanya dengan kehidupan yang sederhana. Setiap pagi ia pergi ke sawah membantu orang tuanya untuk menanam padi. Teriknya matahari dan tetesan keringat sudah bukan sesuatu yang asing bagi Tatang. Jika ditanya, apa yang dia lakukan setiap hari, Tatang selalu berkata, untuk mencari sesuap nasi (ungkapan ini ia katakan untuk mengungkapkan jika ia tidak bekerja keras, maka ia tidak punya cukup uang untuk membeli kebutuhan hidup). Jika ditanya, apa cita-citanya, Tatang selalu berkata ingin hidup bahagia (ia berpandangan bahwa hidup bahagia dapat diperoleh tanpa harus bekerja keras). Terkadang Tatang iri dengan temannya Adang, yang tampak lebih bahagia dari dirinya, tidak harus kepanasan tapi bisa dapat uang setiap hari dari pelanggannya. Saat ia mulai letih akan pekerjaannya, ia selalu istirahat menikmati angin semilir dan pemandangan yang hijau. Hal tersebut selalu mengingatkannya akan kebesaran Tuhan YME. Ia selalu memotovasi dirinya dengan cara berusaha beribadah tepat waktu.

Adang sebagai seorang anak pedagang lebih banyak menghabiskan waktu di toko membantu orang tuanya berjualan. Kehidupannya yang ia lalui tak jauh beda dengan Tatang, bedanya ia tak berurusan dengan teriknya matahari, namun ia banyak berurusan dengan pelanggan yang berbeda-beda. Tak jarang ia harus menghadapi komplain dari pelanggan tentang kualitas barang ataupun harga barang dagangannya. Jika ditanya, apa yang dia lakukan setiap hari, Adang selalu berkata, untuk mencari sesuap nasi (ungkapan ini ia katakan agar tidak terdengar sombong bagi yang mendengarnya). Jika ditanya, apa cita-citanya, Adang selalu berkata ingin menjadi pedagang yang sukses. Terkadang Adang iri dengan temannya Tatang, yang tampak lebih bahagia dari dirinya, bisa punya banyak waktu menikmati keindahan alam dan dapat beribadah tepat waktu.

Suatu saat kedua sahabat tersebut bertemu dan mengkisahkan bahwasannya mereka saling iri satu sama lain. Akhirnya mereka sadar bahwa apa yang mereka pikirkan belum tentu sama dengan apa yang dipikirkan orang lain. Selama ini mereka berdua sudah bekerja keras pada bidangnya masing-masing, namun mereka menjadi tidak terlalu bahagia karena melihat kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Ketika Tatang mendengar cita-cita sahabatnya ingin menjadi pedagang yang sukses, diapun merivisi cita-citanya menjadi petani yang sukses. Tatang sadar bahwa tanpa kerja keras tidak akan pernah menuai kesuksesan. Untuk bisa mencintai pekerjaannya, ia merevisi aktivitas yang ia lakukan setiap hari dengan kalimat memberi sesuap nasi buat orang lain. Tatang menyadari bahwa padi yang ia tanam, hasilnya tidak dirasakan buat dia sendiri, tetapi juga orang lain yang membeli hasil panennya. Sementara Adang juga mendapat inspirasi yang berarti dari Tatang. Di tengah-tengah kesibukan, ia tetap harus membagi waktu untuk menikmati hidup dan beribadah tepat waktu untuk membuat hatinya tetap bahagia.

Seiring berjalannya waktu, Tatang dan Adang melakukan pekerjaan sebagai petani dan pedagang dengan suka cita. Kesuksesan dan kebahagiaan mereka raih bersama. Tatang akhirnya tidak hanya menjadi petani sukses, tetapi menjadi pengelola pertanian. Adang mengembangkan usahanya dalam bidang argobisnis bekerjasama dengan Tatang. Tatang menghasilkan produk pertanian dan Adang menjual/mendistribusikan produk pertanian untuk dapat dinikmati masyarakat luas.

Penulis: Ridho Hutomo